KEAMANAN PANGAN

Keamanan pangan adalah sebuah tanggung jawab yang mengikat kita semua, dari petani hingga konsumen yang menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Mengabaikan tanggung jawab ini maka resiko yang kita hadapi adalah keracunan yang dapat menyebabkan kematian, sehingga perguruan tinggi menjadi sangat concern terhadap masalah ini.

berikut ini merupakan materi-materi yang saya dapat dari perkuliahan

  1. 2, 7 haccp pengendalian-prosesl
  2. 1.-PENDAHULUAN-keamanan_pangan
  3. 2a. Penyakit Bawaan Pangan
  4. 3. foodsafety who kuliah
  5. 4, 5+kunci+keamanan+pangan
  6. 6. 7-jenis-bahaya d pnanggulangn
  7. 7. BAHAN TAMBAHANAN UNTUK MAKANAN DAN KONTAMINAN
  8. 8a. PMK No. 033 ttg Bahan Tambahan Pangan
  9. 9.BTP-PH-PIPIMM2013
  10. 8. KULIAH MENGENAL-BAHAYA-FORMALI

3. foodsafety who kuliah

 

laporan manisan kulit jeruk

Tujuan
Agar mahasiswa dapat memanfaatkan limbah kulit jeruk menjadi suatu produk manisan (manisan kulit jeruk).
Dasar teori
Tanaman jeruk berasal dari suatu kawasan yang sangat luas, mulai dari daratan India, Cina Selatan, Australia Utara dan Selandia Baru. Kini tanaman tersebut telah menyebar keseluruh dunia baik di daerah tropis maupun subtropis. Spesies jeruk yang bernilai ekonomis tinggi pada umumnya sudah dibudidayakan di seluruh dunia ada delapan spesies yaitu Jeruk Nipis(Citrus aurantifolia), Jeruk Kates (Citrus aurantium: sour orange), Jeruk Besar (Citrus grandis: Pummelo), Jeruk Lemon (Citrus Lemon), Jeruk Sitrun (Citrus Medika : Citron), Jeruk Grapefruit (Citrus paradisi), Jeruk Mandarin/ Jeruk Keprok (Citrus Reticulata), dan Jeruk Manis ( Citrus Sinensis: Sweet orange) (Anonim.2011).
Buah jeruk pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar, terutama jeruk manis, jeruk keprok dan jeruk besar. Beberapa jenis jeruk lainnya digunakan sebagai bahan minuman penyegar, seperti jeruk nipis dan jeruk lemon. Jeruk sitrun digunakan untuk minyak penyedap, jeruk bergamen untuk parfum, jeruk yang digunakan untuk bumbu masak adalah jeruk purut dan jeruk limau, sedangkan kulit jeruk besar digunakan untuk manisan (Ashari, 2004).
Manisan buah adalah buah-buahan yang direndam dalam larutan gula selama beberapa waktu. Manisan biasanya dimakan sebagai hidangan pelengkap untuk merangsang nafsu makan. Teknologi membuat manisan merupakan salah satu cara pengawetan makanan yang sudah diterapkan sejak dahulu kala. Perendamanan manisan akan membuat kadar gula dalam buah meningkat dan kadar airnya berkurang. Keadaan ini akan menghambat pertumbuhan mikroba perusak sehingga buah akan lebih tahan lama (Anonim.2011).

Alat dan bahan

Alat :
Baskom
Panci
Kompor
Timbangan
Pisau
Bahan :
Jeruk sambal
Air PDAM
Air gula
Air kapur

Cara kerja
Siapkan jeruk sambal sebanyak 500 g
Iris jeruk dibagian tangkai buah kemudian peras air jeruknya
Bersihkan jeruk hingga tertinggal kulit jeruk bersih
Cuci kulit jeruk hingga bersih
Rendam kulit jeruk dengan larutan garam 125 (g) selama 30 menit
Kukus kulit jeruk selama 30 menit
Masak kulit jeruk dengan air gula hingga mengental
Taburi manisan kulit jeruk dengan gula
Hasil pengamatan
Kelompok Rendemen (%) Tekstur Rasa Aroma
1 59,41 Lembut Pahit Khas jeruk
2 48,02 Lembut Pahit Khas jeruk
3 58,43 Lembut Pahit Khas jeruk
4 48,87 Lembut Pahit Khas jeruk
Perhitungan :
Rendemen= (berat manisan kulit jeruk)/(berat kulit jeruk)=(118,81 g)/(200 g)×100%=59,41%

Pembahasan
Pembuatan manisan kulit jeruk dari kulit jeruk terdapat menghasilkan rendemen yang berbeda-beda tiap kelompok. Kelompok 1 memiliki rendemen kulit jeruk yang paling tinggi daripada kelompok-kelompok yang lain, disebabkan karena pada saat pembuatan manisan kulit jeruk kelompok selain kelompok satu kurang memperhatikan yaitu banyak kulit jeruknya yang terbuat dilantai hingga mempengaruhi rendemen manisan kulit jeruk.
Didalam pembuatan manisan kulit jeruk dari kulit jeruk sambal ternyata memiliki aroma khas jeruk, ini disebabkan karena kandungan senyawa asam sitrat yang terdapat didalam kulit jeruk masih tinggi sehingga mempengaruhi aromanya menjadi asam seperti aroma sebelum diolah menjadi produk manisan. Dan juga manisan jeruk yang terbuat dari kulit jeruk sambal memiliki rasa yang pahit disebabkan karena proses perendaman dengan air kapur kurang lama yaitu 30 menit masih tidak bisa menghilangkan senyawa pektin yang terdapat didalam kulit jeruk masih aktif sehingga menyebabkan manisan kulit jeruk memiliki rasa pahit. Tekstur manisan kulit jeruk dari kulit jeruk sambal memiliki tekstur yang lembut sehingga bila dikecap dengan lidah enak pada saat mengunyahnya, disebabkan karena proses perebusan dengan air gula hingga mengental mempengaruhi tekstur dari manisan kulit jeruk yang dihasilkan. Selama proses perebusan dengan air gula terjadi tekanan osmotik yaitu dimana konsentrasi air gula yang tinggi meresap kedalam bahan sehingga menyebabkan senyawa yang terdapat didalam bahan yang direbus yaitu kulit jeruk terdispersi ke permukaan hingga menyebabkan perubahan tekstur pada manisan kulit jeruk yang dihasilkan.
Kesimpulan
Rendemen manisan kulit jeruk yang tertinggi terdapat pada kelompok 1.
Manisan kulit jeruk yang terbuat dari kulit jeruk sambal memiliki aroma khas jeruk, rasa pahit, dan tekstur yang lembut.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Manisan_buah. di akses 7 desember 2011
Anonim. 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/jeruk. di akses 7 desember 2011
Ashari, Sumeru. 2004. Biologi Reproduksi Tanaman Buah-buahan Komersial. Malang : Bayumedia Publishing

Bahan Olahan Karet

LAPORAN PRAKTIKUM
Tekologi Pengolahan Karet
Acara Ke-3

A. TUJUAN PRAKTIKUM
Agar mahasiswa dapat menentukan kebersihan bokar dari bahan non rubber.
B. DASAR TEORI
Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari pohon karet. Yang termasuk bahan olah karet adalah lateks kebun, sheet angin, slab tipis dan lump segar yang dibagi berdasarkan pengolahannya. Lateks kebun merupakan cairan getah yang dihasilkan dari proses penyadapan pohon karet dan belum mengalami pengolahan sama sekali. Lateks kebun yang baik harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Disaring dengan saringan berukuran 40 mesh.
b. Tidak terdapat kotoran atau benda-benda lain seperti daun atau kayu.
c. Tidak bercampur dengan bubur lateks, air ataupun serum lateks.
d. Warna putih dan berbau karet segar.
e. Lateks kebun mutu I mempunyai kadar karet kering 28% dan lateks kebun mutu 2 mempunyai kadar karet kering 20%.(Anonym,2010)
Mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia dipasar International. Dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangkan panjang. Mutu bokar yang baik dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) dan tingkat kebersihan yang tinggi. Upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai sejak penanganan lateks di kebun sampai dengan tahap pengolahan akhir. Dalam rangka perbaikan mutu bokar, pemerintah telah menetapkan SNI – Bokar No.06 – 2047 – 2002 tanggal 17 oktober 20 dengan kriteria nilai KKK, kebersihan, ketebalan, dan jenis bahan bekuan. (Sunarti, 2008)
Bokar yang bermu tu tinggi harus memenuhi beberapa persyaratan teknis yaitu:
a. Tidak ditambahkan bahan – bahan Non karet.
b. Dibekukan dengan asam format/semut atau bahan lain yang dianjurkan dengan dosis yang tepat
c. Segera digiling dalam keadaan segar
d. Disimpan ditem pat yang teduh dan terlindung
e. Tidak direndam dalam air.
Dalam rangka perbaikan mutu bokar, pemerintah telah menetapkan SNI – Bokar No.06 – 2047 – 2002 tanggal 17 oktober 20 dengan kriteria nilai KKK, kebersihan, ketebalan, dan jenis bahan bekuan. Bokar yang bermutu tinggi harus memenuhi beberapa persyaratan teknis yaitu:
a. Tidak ditambahkan bahan – bahan Non karet
b. Dibekukan dengan asam format/semut atau bahan lain yang dianjurkan dengan dosis yang tepat
c. Segera digiling dalam keadaan segar
d. Disimpan ditempat yang teduh dan terlindung
e. Tidak direndam dalam air. (Kaban, 2002)
Bahan olah karet rakyat :
1. Lum Mangkuk : adalah lateks kebun yang dibiarkan membeku secara alamiah dalam mangkuk, pada musim penghujan untuk mempercepat proses pembekuan lateks ditambahkan asam format/semut atau bahan lainnya.
2. Lum Bambu : adalah sistem pembekuan lateks dengan menggunakan tabung bambu dengan penambahan asam format/semut atau bahan lainnya
3. Sleb/Lum Deurob ( Asap Cair ) : lateks ditambahkan pembeku Deorub dengan perbandingan 1 0 : 1 , pembeku deorub telah ditemukan oleh balai penelitian sembawa yang berfungsi sebagai pembeku lateks , mencegah, dan menutup bau busuk pada bekuan, mempertahankan nilai Po & PRI, memberikan aroma asap yang khas serta bewarna cokelat.
4. Sleb Tipis dan Sleb Giling : Bahan olah karet rakyat pada umumnya dalam bentuk Sleb tipis dan giling cara pembuatan yang umum dilakukan adalah dengan mencampurkan lateks dengan lum mangkok kemudian dibekukan dengan asam format atau semut didalam bak pembeku yang berukuran 6 0cm x 40 cm x 6 cm tanpa perlakuan penggilingan, bahan olahan ini lebih disukai karena mutu yang dihasilkan seragam dengan Kadar Karet Kering (KKK) sekitar 50%, tidak ada resiko penurunan mutu serta muda didalam pengangkutan .
5. Blanket : Sleb tipis dapat diolah menjadi blanket melalui penggilingan dengan mesin mini Creper, proses penggilingan dilakukan sebanyak 4 – 6 kali sambil disemprot air untuk menghilangkan kotoran yang terdapat didalam sleb, Blanket mempunyai Ketebalan sekitar 0,6cm – 1cm, dengan KKK sekitar 65% – 75%.
6. Sit Angin (Unsmoked sheet/USS : Sit angin adalah lembaran karet hasil bekuan lateks yang digiling dan dikering anginkan sehingga memiliki KKK 90 – 95 % proses pembuatn sit angin terdiri dari penerimaan dan penyaringan lateks, pengenceran, pembekuan, pemeraman, penggilingan, pencucian, penirisan, dan pengiringan.
7. Sit Asap ( Ribbed Smoked Sheet/RSS ) : Proses pengolahan Sit Asap dengan pembeku asam format/semut hamper sama dengansit angin, bedanya terletak pada proses pengeringan, yaitu pada sit asap dilakukan pengasapan pada suhu yang bertahap antara 40 derajat – 60 derajat celcius selama 4 hari . Klasifikasi Sit Asap menjadi RSS 1, RSS 2, RSS 3, dan cutting dilakukan setelah proses pengeringan, keuntungan yang diperoleh RSS dapat langsung diekspor atau sebagai bahan baku industri barang jadi karet, mutu produk seragam dan konsisten, harga paling tinggi dibandingkan jenis bokar yang lain.
8. Lateks Pekat : Lateks Pekat adalah lateks kebun yang dipekatkan dengan cara pusingan atau didadihkan dari KKK 28%30 % menjadi KKK 60 % – 64 % , pengolahan lateks pekat melalui beberapa tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks kebun,pembuatan larutan. ( Anonim, 2009)
C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat :
1. Talenan
2. Pisau
b. Bahan :
1. Karet jinton (lump)
D. CARA KERJA
1. Siapkan alat dan bahan
2. Ambil lump yang telah direndam di dalam air
3. Iris lump pada beberapa bagian.
4. Amati bagian yang telah diiris adanya kotoran dan bagian yang bersih.
5. Bentuk kotoran berupa kayu, pasir, kadar besi, tanah, serta sampah dedaunan.
6. Catat hasil pengamatan dalam bentuk tabel.
7. Beri tanda plus (+) pada tabel pengamatan pada bagian lump yang terdapat kotoran.
8. Semakin banyak tanda + berarti kadar kotoran semakin banyak.

E. HASIL PENGAMATAN
Tabel pengamatan data kelas
Kelompok Kebersihan Keterangan
1. + + Tanah, tatal
2. + + + Tanah, daun, kerikil, pasir
3. + + + Kayu, rambut, tanah, daun
4. + + Kayu, daun, pasir

Keterangan :
+ + + = Banyak kotoran
+ + = Sedang
+ = Sedikit

F. PEMBAHASAN
Bokar atau bahan olah karet merupakan proses pengolahan pembuat lateks kebun atau cairan getah secara alami tanpa ada pengolahan sama sekali seperti tidak ada penambahan koagulan kimia seperti asam semut dan koagulan yang alami dan tingkat kebersihan yang tinggi dengan dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) sebagai Mutu bokar yang baik. Yang termasuk bahan olah karet adalah lateks kebun, sheet angin, slab tipis dan lump segar yang dibagi berdasarkan pengolahannya. Pada praktikum kita ditujukan untuk menentukan ada tidaknya kotoran yang terdapat dalam bokar akibat perlakuan yang disengajakan oleh para petani karet atau tidak disengaja akibat seperti dipengaruhi angin. Penentuan pengujian ini supaya pada proses pengolahan pembuatan SIR murni menggunakan bokar yang berasal dari karet, tidak adanya tercampur sampah yang dapat menurunkan kwalitas pengolahan SIR.
Pada pengujian yang telah dilakukan yaitu cara fisik yaitu dengan membelah sebagian bokar dan melihat serta menghitung kotoran yang terdapat dalam bokar. Pada tabel pengamatan diatas dapat dilihat dengan hasil pengujian setiap kelompok dengan bahan yang berbeda, kelompok 2 dan 3 banyak mengalami kadar kotoran dengan ditandai + + + yang berarti banyak terdapat kotoran. Kemudian kotoran yang terkandung kedalam bokar yakni tanah, daun, kerikil, kayu, pasir, serta rambut. Terdapatnya kotoran ini mungkin diberi perlakuan sengaja oleh petani karet agar mendapatkan berat yang begitu besar. Adanya ini akibat penjualan harga bokar begitu murah jika dengan bentuk lainya. Sehingga dengan penambahan kotoran para petani mendapat keuntungan yang besar. Akan tetapi pada pengusaha dengan menggunakan cara ini sangatlah tidak diinginkan karena dapat merusak kwalitas dalam proses pembuatan SIR dan proses selanjutnya seperti pembuatan produk berupa ban mobil, motor, sepeda dan produk lainnya. Pada kelompok 1 dan 4 kotoran yang terdapat sangat sedikit berupa tanah dan daun kering sedikit pasir diakibatkan pada tempat penyimpanan yang areal terbuka
G. KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan yakni :
1. Bokar atau bahan olah karet merupakan proses pengolahan pembuat lateks kebun atau cairan getah secara alami tanpa ada pengolahan sama sekali untuk mendapatkan tingkat kebersihan yang tinggi dengan dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) sebagai Mutu bokar yang baik.
2. Bahan-bahan yang terdapat dalam bokar yang rusak berupa pasir, tanah, kayu, kerikil dan lain-lain.
3. Terdapatnya kandungan kotoran dalam bokar adanya perlakuan sengaja para petani karet agar mendapatkan keuntungan dan akibat pengaruh alam seperti hembusan angin
4. Perlakuan yang sengaja diberikan petani dengan menambahkan kotoran pada bokar untuk mendapatkan keuntungan yang besar karena harga jual bokar amat keci atau murah.
5. Pada tabel pengamatan pengujian ini kelompok 2 dan 3 banyak terdapat kadar kotoran bokar dengan jenis kotoran tanah, pasir, kayu, kerikil dan daun kering
6. Adanya kotoran yang terdapat dalam bokar dapat merusak kwalitas dalam pengolahan SIR dan proses selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2009. Pengolahan Bahan Olahan Karet Rakyat (Bokar). http://www.antakowisena.com/artikel/pengolahan-bahan-olahan-karet-rakyat-bokar.html. diakses pada tanggal 16 desember 2011
Anonim, 2010. Bahan olah karet. http://www.tekno-perta.com/doc /2010/ ketentuan-bahan-olah-karet.html diakses 16 desember 2011
Kaban, jamaran. 2002. Diklat teknologi pengolahan karet, universitas sumatera utara. FMIPA. Medan.
Sunarti, 2008. http://nhart-sunarti-php-yahoo.com.blogspot./doc/2010/16/ mutu-bahan-olah-karet.html diakses 16 desember 2011